Sunday, 25 September 2016
sajak (V)
puisi-puisi sumbang masih kudendang
disaksi deru-deru bayu dan bayangku yang hilang
kulakar baris demi baris
dengan wasilah tangis yang menitis
tutupkan matamu biarkannya beradu
lenakan kupingmu jangan terdengar hiba jiwaku yang sendu
semoga damai
semoga telah tercantum hatimu yang pernah berderai
semoga lena
semoga telah kering segala air mata
bersama keringnya tinta
semoga masih gagah berdiri
semoga menjadi kekuatanku lagi esok hari
Friday, 23 September 2016
sajak (IV)
pada matamu yang embun
ada doa-doaku yang tersusun
pada bibirmu yang meredup senyum
ada serpih-serpih hatiku yang kembali tercantum
langit malam kan mulai surut
terganti hening fajar menyambut
matahari pagi, kau kutunggu
bersama sisa-sisa harapan yang baru
Thursday, 22 September 2016
sajak (III)
malam ini
aku mendengar bisikan langit hitam
menggema suara dari utara
bercetera tentang sunyi bintang-bintang malam
sang rembulan bersembunyi
membiarkan bintang-bintang bersinar sepi
pedih dan sedih
pilu dan ngilu
ada suara-suara bintang yang berdoa
semoga malam esoknya
tuhan akan menggantung sang rembulan bersama
agar hati-hati di bumi tersenyum semula
sajak (II)
di antara pohon-pohon yang menari
dan di antara para cengkerik yang menyanyi
di sisi langit ini aku berdiri
bersama doa-doa yang aku pateri
semoga engkau lena sejahtera dibawah sisi langit yang satu lagi
Wednesday, 21 September 2016
sajak (I)
suriaku yang menjingga
redupilah langit senja
bersama lelah-lelah yang kaubawa
suriaku yang rawan
aku akan tetap menunggu sinarmu
selepas fajar membenamkan rembulan
bersama sisa-sisa sendu
terima kasih
untuk perjuanganmu yang tidak kauhentikan
untuk terik-terik cahaya yang membenihkan
semoga tabah setiap hari
kerna keringat tabahmu menyuburi lantai-lantai bumi
Subscribe to:
Posts (Atom)






