Wednesday, 28 September 2016

sajak (VII)



ada desir-desir bayu yang kususun menjadi bayangmu
ada munajatku pada tuhan tentangmu
yang tak siapa perlu tahu

dari titis-titis air yang mengalir
hingga para dedaun yang bergilir

dari kepak-kepak beburung meluas di langit
hingga ke ruang hatiku yang sempit

tak kubiar sehari berlalu
tanpa sebaris namamu dalam doaku

Tuesday, 27 September 2016

sajak (VI)



kau tak datang
bersama redup matahari petang

kau tak pula hilang
seperti sisa-sisa fajar yang tak terundang

ketika aku menanti
di tengah dingin pagi
rupanya kau bersembunyi
seperti sang pelangi pagi--
indah dan misteri

yang hanya akan hadir ketika aku perlu
semisal hatiku yang memundak rindu

Sunday, 25 September 2016

sajak (V)




puisi-puisi sumbang masih kudendang
disaksi deru-deru bayu dan bayangku yang hilang

kulakar baris demi baris
dengan wasilah tangis yang menitis

tutupkan matamu biarkannya beradu
lenakan kupingmu jangan terdengar hiba jiwaku yang sendu

semoga damai
semoga telah tercantum hatimu yang pernah berderai

semoga lena
semoga telah kering segala air mata
bersama keringnya tinta

semoga masih gagah berdiri
semoga menjadi kekuatanku lagi esok hari

Friday, 23 September 2016

sajak (IV)



pada matamu yang embun
ada doa-doaku yang tersusun

pada bibirmu yang meredup senyum
ada serpih-serpih hatiku yang kembali tercantum

langit malam kan mulai surut
terganti hening fajar menyambut

matahari pagi, kau kutunggu
bersama sisa-sisa harapan yang baru

Thursday, 22 September 2016

sajak (III)



malam ini
aku mendengar bisikan langit hitam
menggema suara dari utara
bercetera tentang sunyi bintang-bintang malam

sang rembulan bersembunyi
membiarkan bintang-bintang bersinar sepi
pedih dan sedih
pilu dan ngilu

ada suara-suara bintang yang berdoa
semoga malam esoknya
tuhan akan menggantung sang rembulan bersama
agar hati-hati di bumi tersenyum semula

sajak (II)




di antara pohon-pohon yang menari
dan di antara para cengkerik yang menyanyi
di sisi langit ini aku berdiri
bersama doa-doa yang aku pateri

semoga engkau lena sejahtera dibawah sisi langit yang satu lagi

Wednesday, 21 September 2016

sajak (I)





suriaku yang menjingga
redupilah langit senja
bersama lelah-lelah yang kaubawa

suriaku yang rawan
aku akan tetap menunggu sinarmu
selepas fajar membenamkan rembulan
bersama sisa-sisa sendu

terima kasih
untuk perjuanganmu yang tidak kauhentikan
untuk terik-terik cahaya yang membenihkan

semoga tabah setiap hari
kerna keringat tabahmu menyuburi lantai-lantai bumi